Kamis, 07 Januari 2010

TAK ADA BAHASA, YANG ADA HANYA KAMU

Tuhan, saat ini aku membencimu lagi. Karena aku tak bisa menulis apa yang ingin aku tulis. Bahasa hilang karena hanya Dirimu yang mampu aku rasakan. Sudah banyak buku yang aku baca. Sudah sering aku berbaur dengan orang yang ada di sekelilingku. Sudah sering pula aku belajar pada orang lain dalam setiap keadaan namun yang ada hanya Kamu. Mengapa Kamu selalu berada dalam teka-teki dan ingin menjadi teka-teki dalam hidupku? Jika Kamu yang menciptakan bahasa mengapa Kamu menciptakanku? Apakah Kamu memberi potensiku hanya untuk memahami Dirimu? Ke mana pun yang ada hanya Kamu.

Tuhan, aku ingin memahami Dirimu dengan memahami ciptaanMu tetapi bukan begini caranya. Aku punya cara sendiri tetapi sekarang Kamu malah menggantinya dengan mengharuskanku untuk merasakan dan memikirkan Dirimu. Pikiranku hanya Dirimu. Hatiku hanya Dirimu. Aku tidak mampu membuangnya. Aku tidak mampu lepas dari Dirimu seperti dulu. Aku tidak mampu memberontak pada Dirimu lagi.

Banyak orang yang memberontakMu. Mereka menganggap dirinya kuat, padahal tidak. Karena yang menciptakan dirinya adalah Dirimu. Aku tahu itu karena pikiranku pernah memberontakMu dan aku tidak menemukan jalan keluarnya kecuali harus meredam ego untuk disesuaikan dengan perjalan di langit dan di bumi. Aku serahkan semuanya padamu karena aku lemah di hadapanMu. Tuhan, dunia ini absurd, Kamu juga absurd. Dan kini aku hanya bisa menciptakan sajak yang tidak aku sukai.

Kupanggil Engkau dalam Diriku

segala yang mati segala yang hidup
segala yang menyusup pada diriku
segalanya yang engkau berdetak dalam tubuhku
segalanya padaku

padamu aku tak menemukan arah dan jalanku
karena segalanya adalah engkau
kupanggil engkau dalam diriku
namun segalanya hanyalah aku

kupanggil engkau dalam diriku berkali kali
tetap saja yang ada hanyalah aku

Yogyakarta, 03-01-10